Hoax Percobaan Penculikan Marak di Medsos

PROKAL.COPENAJAM – Sepekan terakhir, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) diresahkan dengan isu percobaan penculikan anak. Isu tersebut, ramai dibagikan di media sosial. Sehingga orangtua menjadi gelisah. Dan membuat pihak kepolisian bertindak. Dari hasil penelusuran, bahwa informasi yang beredar tersebut tidak benar alias hoax.  

Informasi percobaan penculikan tersebut, terjadi di dua kecamatan. Yakni Kecamatan Sepaku dan Kecamatan Penajam. Isu pertama terjadi di Pasar Desa Sukaraja, Kecamatan Sepaku, pada Senin (15/10) sore. Dua hari setelahnya, Rabu (17/10), isu percobaan penculikan di Perum Linda Regency, Kelurahan Gunung Steleng, Kecamatan Penajam kembali beredar.

“Berdasarkan penelusuran, kami memastikan bahwa isu penculikan yang terjadi beberapa hari terakhir adalah hoax,” kata Kapolres PPU, AKBP Sabil Umar dalam keterangan resminya, kemarin. Untuk isu percobaan penculikan di Desa Sukaraja itu, pihak kepolisian sudah melakukan penyelidikan dan menemukan informasi bahwa pelaku yang diduga sebagai penculik hanyalah pengendara motor yang menanyakan jalan menuju Hutan Tanaman Industri (HTI) kepada korban.

Orang tersebut mengendarai motor Yamaha F1ZR, dengan membonceng jeriken di belakangnya. Namun korban yang diketahui berusia tujuh tahunan itu tidak bisa menjelaskan hal tersebut. Dan merasa takut. Sehingga terlihat seperti percobaan penculikan. Sedangkan pada isu percobaan penculikan di Kelurahan Gunung Steleng, pihak kepolisian sudah memeriksa tiga saksi terkait hal tersebut. Yang merupakan warga Perum Linda Regency, namun semuanya tidak bisa membenarkan informasi tersebut.

“Hanya mendengar berita tersebut dari mulut ke mulut tetapi tidak tahu-menahu terkait berita percobaan penculikan anak tersebut. Dan hanya mendengar dari pemberitaan yang di-share melalui media FB (Facebook),” kata Sabil.

Terhadap maraknya isu mengenai percobaan penculikan tersebut, maka Polres PPU akan memanggil pihak yang mengelola grup media sosial yang biasa digunakan masyarakat PPU berinteraksi. Pasalnya isu tersebut marak dibagikan di grup media sosial, khususnya Facebook. Hal tersebut dilakukan untuk tidak memberikan ruang menyebarkan suatu berita, yang perlu klarifikasi dari sumber yang pasti. Sehingga tidak meresahkan masyarakat atas pemberitaan pemberitaan yang telah dibagikan.

“Supaya dapat mem-filter informasi-informasi yang akan dimuat di grup medsos tersebut. Supaya tidak meresahkan masyarakat atas informasi yang tidak bisa dipastikan kebenarannya,” tandas pria berpangkat melati dua di pundak ini. (*/kip/rsh/k18)